Sabtu, 21 Mei 2011

BIOGRAFI IMAM MAZHAB

KATA PENGANTAR
Bismillahi Rahmani Rahim
            Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat merangkum makalah ini dengan baik, yang berjudul ”Biokrafi Imam Malik dan Penetapan Hukumnya”.
            Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mata kulia Pengantar Perbandingan Mazhab. Penyelesaian makalah ini bukannya tanpa hambatan dan tantangan, bahkan kadang-kadang dapat mengundang banyak pengorbanan. Namun demikian, penyusun berusaha menarik setitik hikmah. Bahwa semua itu merupakan romantika dalam mengarungi lautan ilmu yang telah menelan banyak waktu, biaya, dan tenaga.
            Dalam makalah ini yang teoritik para penyusun harus melengkapi berbagai pokok permasalahan yang harus di pecahkan.
            Akhirnya penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tidak tertutup kemungkinan isi makalah ini belum sesuai dengan harapan berbagai pihak, karena potensi yang penyusun miliki masih sangat terbatas oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya konstruktif sangat penyusun harapkan terutama dari Bapak/Ibu pembimbing.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi seluruh masyarakat agar memeperoleh informasi mengenai sislilah keluarga Imam Malik dan penetapan hukumnya dalam Ushul Fiqh yang berlaku sampai sekarang. Semoga setiap gerak dan langkah yang kita tempuh selama ini akan bernilai ibadah dan mendapat ridha dari Allah SWT.
Amin

Makassar, 13 April 2011

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………...
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………
A.    Latar Belakang ………………………………………………………………….
B.     Rumusan Masalah ………………………………………………………………
C.     Tujuan Masalah …………………………………………………………………
D.    Manfaat …………………………………………………………………………
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………………
A.    Tahun dan Tempat Kelahiran Serta Silsilah Imam Maliky ……………………
B.     Pendidikan yang Diperoleh Imam Maliky ………………………………………
C.     Para Guru Imam  Maliky ………………………………………………………..
D.    Keadaan Pribadi dan Sifat-Sifat Imam Maliky ………………………………..
E.     Kehebatan Majelis Imam Maliky ………………………………………………
F.      Kepandaian Imam Maliky Tentang  Pengetahuan Agama ……………………
G.    Kepandaian Imam Maliky Tentang Ilmu Hadits ………………………………
H.    Cara Imam Maliki Memberi Fatwa …………………………………………….
I.       Dasar-Dasar Hukum yang Diambil Oleh Imam Maliky ……………………….
J.       Dasar-Dasar Mazhab Imam Maliki …………………………………………….
K.    Kewafatan Imam Maliky ……………………………………………………….

BAB III PENUTUP ………………………………………………………………………
A.    Kesimpulan ……………………………………………………………………...
B.     Saran …………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………














BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Pada zaman sekarang penetapan hokum dalam Ushul Fiqh sangat kontropersial karena banyaknya mazhab yang bermunculan sehingga penetapan  hukumnya pun beragam. Munculnya empat Imam Mazhab sangat berpengaruh dalam perkembangan  hokum dalam Ushul Fiqh khususnya dikalangan Sunnih.
Salah satu nama Imam mazhab yang terkenal adalah Malik Bin Anas atau biasa di panggil dengan sebutan Imam Malik. Iman Malik hafal Al-Quran dan hadist-hadist Rasulullah SAW. Ingatannya sangat kuat dan sudah menjadi adat kebiasannya apabila beliau mendengar hadist-hadist dari para gurunya terus dikumpulkan dengan bilangan hadist-hadist yang pernah beliau pelajari.
Berangkat dari itulah penulis membuat makalah tentang biografi Imam Malik serta penetapan hukumnya. Penulisa juga ingin memaparkan kelebihan Mazhab yang dimiliki oleh golongan Malikiyah dan beberapa urgensi-urgensi yang dimilikinya.
B.   Rumusan Masalah
Adapu tujuan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana silsilah keluarga Imam Malik?
2.      Bagaimana keperibadian yang dimilki oleh Imam Malik?
3.      Bagaimana ketetapan hukum dalam bermazhab dari Imam Malik?
4.      Bagaimana keadaan golongan Malikiyah setelah wafatnya Imam Malik?

C.   Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui dan memahami silsilah keluarga Imam Malik
2.      Untuk mengetahui dan memahami keperibadian yang dimilki oleh Imam Malik
3.      Untuk mengetahui dan memahami ketetapan hukum dalam bermazhab dari Imam Malik
4.      Untuk mengetahui dan memahami keadaan golongan Malikiyah setelah wafatnya Imam Malik
D.   Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah memberikan informasi kepada para pembaca berupa pengetahuan tentang silsilah keluarga dari Imam Malik dan ketetapan hukum yang dimilikinya. Sehingga ketetapan hukumnya itu dapat dikenali dan dibedakan diantara Mazhab mazhab lainnya.









BAB I
PEMBAHASAN

A.   Tahun dan Tempat Kelahiran Serta Silsilah Imam Maliky
            Imam Maliky dilahirkan di kota Madinah daerah negeri Hijaz, menurut yang mansyur  pada tahun 93 Hijriah( 712 Masehi). Nama beliau  dari mulai kecil ialah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al ashbahy, dengan riwayat ini jelaslah bahwa beliau adalah seorang dari keturunan bangsa Arab dari dusun Dzu Ashbah, sebuah dusun di kota Himyar dari jajahan negeri Yaman.
            Perlu dijelaskan bahwa, nama Anas bin Malik bukanlah Anas bin Malik yang pernah menjadi sahabat dan  khadam  Nabi  kita Muhammad SAW. Karena Anas bin malik ini adalah  bin Nadhar bin Dhamdham bin Zaid Al Khazrajy , adapun yang dimaksud Anas bin Malik (ayah bagi imam Malik) itu adalah bin Abi Amir bin Amr bin Al Harits bin sa’ad bin Auf bin Ady bin Malik bin Yazid. Anas termasuk seorang tabi;iy(seorang islam yang hidup dimasa sahabat Nabi ialah Abu Amir ).
            Abu Amir berasal  dari kota Yaman , pindah ke Madinah dimasa Nabi kita SAW. Dengan tujuan berhijrah dari negerinya karena hendak mengikuti  dakwah islam di Madinah yang sedang berkembang, Abu Amir pada waktu menjadi sahabat Nabi SAW. Adalah termasuk seorang sahabat yang setia, dan sewaktu-waktu ia ikut serta menjadi tentara untuk bertewmpur melawan musuh di kala terjadi peperangan  di Badr yang besar.
Adapun nama bagi ibu Imam Maliky adalah St. Al Aliyah binti Syuraik bin Abdurrahman bin Syuraik Al Azadiyah . Menurut beberapa riwayat yang termaktub dalam kitab-kitab tarikh bahwa imam  Maliky  ketika dalam kandungan rahim ibunya adalah dalam waktu kurang lebih dua tahun.
            Pada masa Imam  Maliky dilahirkan, pemerintahan islam ada ditangan kekuasaan Kepala Negara Sulaiman bin Abdul Malik. Imam  maliky setelah memiliki putra yang salah satunya diberi  nama Abdullah, maka beliau lalu terkenal dengan gelaran Abu Abdullah, kemudian pada masa sesudah beliau menjadi seorang alim besar dan terkenal di mana-mana pada masa itu  setelah ijtihad  beliau pengetahuannya tentang hukum-hukum  keagamaan diakui dan diikuti oleh sebagian  kaum  muslimin , maka hasil dari ijtihad beliau itu dikenal oleh oleh orang banyakk dengan sebutan “Mazhab Imam Maliky”.

B.   Pendidikan yang Diperoleh Imam Maliky
            Imam Maliky terdidik di kota Madinah dalam  dalam suasana yang meliputi para sahabat , para tabi’in, para anshar, para cerdik –pandai dan  para ahli hokum agama.Beliau terdidik di tengah-tengah m ereka itu sebagai seorang anak yang cerdas, cepat menerima pelajaran,, kuat dalam berfikir dalam menerima pelajaran, setia dan teliti.
Dari kecil beliau belajar membaca Al Qura’an dengan lancer di luar kepala, dan mempelajari pula tentang sunnah, dan selanjutnya setelah dewasa beliau  belajar  kepada para ulama dan fuqaha di kota Madinah, menghimpunkan pengetahuan yang di didengar dari mereka, menghafalkan pendapat-pendapat mereka, menaqal atsar-atsar mereka, mempelajari dengan seksama tentang pendirian-pendirian atau aliran-aliran  mereka dan mengambil kaidah-kaidah mereka, sehingga beliau pandai tentang semuanya itu daripada mereka, menjadi seorang  pemuka tentang sunnah dan sebagai pemimpin ahli hukum  agama di negeri Hijaz.
            Perlu diterangkan bahwa Malik, datuk beliau adalah seorang yang termasuk pembesar tabi’in dan ulama mereka yang terkemuka. Semenjak kecil beliau  seorang fakir, tidak pernah mempunyai uang , karena memang bukan keturunan orang yang mampu. Sekali pun dalam keadaan demikian, namun beliau tetap sebagai seorang pelajar yang setia dalam menuntut ilmu pengetahuan,  oleh sebab itu setelah itu beliau menjadi seorang alim besar di kota Madinah, bertubu-tubi hadiah yang datang disampaikan kepada beliau.
C.   Para Guru Imam  Maliky
            Imam  Maliky, dari kecil putra seorang tabi’y yang terkenal dan cucu seorang alim besar  golongan tabi’in yang tertua, maka sudah tentu beliau terdidik suka kepada ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama. Llebih-lebih memang sejak sejak beliau dilahirkan sudah membawa sifat-sifat dan tanda-tanda yang menunjukkan , bahwa beliau seorang yang akan menjadi pemimpin besar dalam lingkungan umat islam.
            Adapun guru beliau yang pertama ialah Imam Abdul Rahman bin Harmaz, seorang alim besar di kota Madinah pada masa itu, beliau berguru kepada Imam ini agak lama dan bergaul dengan erat serta bertempat tinggal di rumahnya sampai  beberapa tahun, dan tidak ada guru beliau yang  bergaul erat dan rapat sampai lama, selain dari Imam  Abdur Rahman bin Hamzah ini.Ketika beliau hendak mempelajari ilmu fiqih dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, beliau lalu belajar kepada seorang alim besar ahli fiqih di  Madinah pada masa itu, yang terkenal dengan nama Rabi’ah ar-Ra’yi. Beliau ini wafat pada tahun 136 Hijriah, dan  ketika beliau hendak mempelajari ilmu hadits, beliau lalu belajar kepada Imam Nafi’ maula ibnu Umar, beliau ini wafat pada tahun 117 hijriah, dan beliau berguru juga kepada Imam Ibnu Syaibah Az Zuhry. Beliau ini wafat pada tahun 124  hijriah .
            Para guru beliau, selain daripada empat orang yang tersebut itu ada juga dan tidak hanya seorang dua saja, tetapi berpuluh-puluh orang  yang diantaranya adalah Imam Ibrahim bin Abi Ablah Al- Uqaily, wafat pada tahun 152 H, Imam Ja’far bin Muhammad bin Ali, wafat pada tahun  148 H , Imam Isma’il  bin Abi Hakim Al Madany wafat pada tahun 130 H , Imam Tsaur bin Zaid Ad Daily, wafat pada tahun 135 H, Imam Humaid bin Abi Humaid Abi Humaid At Taw’wil, wafat pada tahun 143 H, imam Daud bin Hashin Al-Amawy, wafat pada tahun 135 H , Imam Hamid bin Qais Al A’raj, wafat pada tahun 139 H, Imam  Zaid bin Aslam Al  Madany, tahun 136 H, Imam Zaid  bin Abi Anisah, wafat pada tahun 135 H, Imam Salim bin Abi Umayyah Al Qurasyy, wafat b pada tahun 129 H.
            Inilah diantara para guru Imam Maliky, yang dari antara mereka itu hingga kini masih tercatat dalam kitab-kitab hadits sebagai perawi  hadits. Dari sepanjang riwayat, jumlah guru beliau yang utama itu tidak kurang dari 700 orang, dan dari antara yang sekian banyaknya itu ada 300  orang yang tergolong ulama tabi’in.
D.   Keadaan Pribadi dan Sifat-Sifat Imam Maliky
            Imam  Maliky adalah seorang yang badannya tinggi serta besar , berkulit merah kekuningan, kepalanya besar serta botak, janggutnya panjang. Pada saat rambut kepalanya telah mulai beruban, beliau tidak suka menghitami rambutnya, bahkan rambutnya yang berubah dianggapnya sebgai cahaya yang bersinar di atas kepalanya. Keadaan  pribadi beliau memang gagah, kuat dan baik, ditambah dengan kesukaannya kepada pakaian yang bagus serta bersih . Kedua pandangan matanya ada berwarna biru serta bersinar, sebagai tanda yang menunjukkan bahwa beliaumemeng seorang  yang tajam pandangan matanya. Beliau tidak suka kepada pakaian kotor , yang buruk dan  yang  berbau  busuk .Karena kecuali beliau  seorang yang suka kepada pakaian yang bagus , bersih, pun beliau suka memakai bau-bauan yang harum..
            Beliau berpendirian: bahwa orang ahli ilmu itu hendaknya menunjukkan penghormatanya kepada ilmunya dengan jalan memelihara pakaiannya dan  kesopanannya serta gerak geriknya, agar ilmu yang ada dalam dadanya itu tidak disia-siakan orang.
E.   Kehebatan Majelis Imam Maliky
            Majelis pelajaran imam  Maliky adalah suatu majelis yang  mempunyai keagunan dan mengandung  kehebatan , majelis yang diliputi oleh suasana yang sangat hebat dan  prabawa yang menakutkan, karena pribadi beliau adalah  mempunyai prabawa (haibah) yang besar, seorang yang waspada. Dalam  majelisnya tidak ada sedikit pun suara yang mengganggu orang banyak yang sedang mendengarkannya, dan tidak ada suara perbantahan dan percekcokan.
            Beliau mempunyai seorang penulis, namanya Habib, untuk menuliskan catatan beliau dan membacakan pengajaran-pengajaran beliau kepada orang banyak. Tidak seorang juga dari antara yang mengunjungi majelis beliau yang berani mendekati tempat beliau duduk, dan tidak ada pula yang berani melihat catatannya, karena dari hebatnya pribadi beliau dan menghormati kepada beliau dimajelisnya. Dan apabila si Habib (penulis beliau) bersalah dalam menuliskannya, maka seketika itu beliau membenarkannya.
F.    Kepandaian Imam Maliky Tentang  Pengetahuan Agama
                 Kepandaian imam  Maliky tentang ilmu pengetahuan agama sepanjang riwayat adalah sebagai berikut:
                 Pada sebelum dewasa (baligh) beliau telah hafal Al Qur’an diluar kepala dengan arti kata yang sesungguhnya. Di kala itu sebagian para ulama telah menduga, bahwa beliau akan menjadi seorang besar. Kemudian dikala umur kurang lebih 17 tahun, beliau sudah mempunyai kepandaian tentang berbagai macam pengetahuan agama dan cabang-cabangnya. Selanjutnya beliau menyelami ilmu hadits dengan sedalam – dalamnya dan seluas – luasnya, sehingga banyak para ulama besar dari luar koya madinah yang datang berduyung – berduyung kepada beliau untuk mengisap ilmu pengetahuaanya yang luas itu.
                 Imam ibu hanifah sendiri dikala itu pernah ditanya orang tentang kepandaian imam maliky, beliau menjawab : saya belum pernah menjumpai seorang yang lebih alim dari pada malik.
                 Imam al laits bin sa’ad berkata : pengetahuan imam malik adalah pengetahuan orang yang takwa kepada ALLAH, dan pengetahuan imam malik boleh di percaya bagi orang yang benar – benar hendak mengambil pengetahuan.
                 Imam yahya bin syu’bah pernah berkata : pada masa itu  tidak ada seorang pun yang dapat menduduki kursi mufty di masjid
nabi saw. Selain dari pada imam maliky.
                 Alhasil, imam maliky adalah seorang alim besar tentang ilmu agama pada masanya, sehingga dari karenanya beliau terkenal dengan :
                 “ seorang ahli kota Madinah”. Dan terkenal pula dengan “Imam di negeri Hijrah.”
                 Kemudian dikala itu terbitlah suatu pernyataan dari para ulama terkemuka yang berarti : “tidaklah selayknya seorang fatwa tentang urusan keagamaan, padahal Imam M alik masih ada di kota madinah.”
G.  Kepandaian Imam Maliky Tentang Ilmu Hadits
                 Tentang kepandaian imam Maliky tentang ilmu hadits, tidak perlu kiranya direntang panjangkan lagi, karena pernyataan para ulama yang terkemuka di masa itu telah cukup menjadi bukti, bahwa beliau seorang yang ahli tentang ilmu hadits.
                 Dari antara peryataan mereka itu adalah sebagai berikut :
1.      Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’iy berkata”apa bila datang hadits kepadamu dari Imam Malik, maka pegang teguhlah olehmu dengan tanganmu, karena ia menjadi alas an bagi kamu.”
2.      Juga beliau berkata : “apabila disebut-sebut ulama ahli hadis, maka Imam Malik-lah bintangnya, dan tidak ada seorang pun yang lebih aku percaya tentang hadis, selain dari pada Imam Malik.
3.       Pada beliau pernah berkata :” Imam Malik dan Imam Ibnu Uyainah, kedua-duanya adalah berkawan erat pada suatu masa.
4.      Imam Sufyan bin Uyainah sendiri pernah berkata :”Imam Malik adalah tidak suka menyampaikan hadits, melainkan yang terang dari Nabi SAW.
5.      Juga Imam Sufyan pernah berkata :” tidak ada seorang pun yang amat teliti menyelidiki orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi dan yang lebih mengetahui akn kelakuan mereka selain dari pada Imam Maliki.”
6.      Selanjutnya beliau  pernah berkata :” semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada Imam Malik,karena dari keras dan awasnya memeriksa orang-orang yang meriwayatkan hadits.”
H.  Cara Imam Maliki Memberi Fatwa
                 Yang mulia Imam Maliki adalah seorang yang terkenal alim besar, tetapi amat berhati-hati dan sangat teliti dalam urusan hokum-hukum keagamaan, terutama dalam urusan riwayat yang dikatakan “hadits” dari Nabi SAW. Dalam hal ini, disini dengan singkat kami uraikan cara-cara beliau dalam member jawaban atas pertanyan-pertanyaan yang dikemukakan kepada beliau atau cara memberikan fatwa tentang hokum-hukum keagamaan.
1.      Imam Abu Mazhab meriwayatkan, bahwa Imam Maliki pernah berkata:” aku belum pernah memberi fatwa tentang suatu masalah, sehingga aku mengambil saksi dengan 70 orang ulama, bahwa aku memang ahlidalam soal demikian itu.”
2.      Imam Asy Syafi berkata :”sungguh aku telah menyaksikan pada Imam Maliki, bahwa beliau pernah ditanya masalah-masalah sebanyak 48 masalah.
3.      Imam Musa Bin Dawud berkata:”Imam Malik pernah ditanya beberapa masalah di negeri Irak sampai 40 masalah, tetapi beliau tidaklah menjawab pertanyaan-pertanyaan (masalah-masalah) yang sekian banyaknya itu, melainkan hanya 5 masalah.
I.      Dasar-Dasar Hukum yang Diambil Oleh Imam Maliky.
     Yang mulia Imam Maliki, sebagaimana di muka telah kami uraikan adalah beliau seorang alim ahli hadis yang terkemuka dimasanya,dengan demikian tentu saja beliau adlah seorang yang pandai tentang kitab allah (Alquran).
     Beliau memberikan fatwa tentang urusan hokum-hukum keagamaan, adalah berdasarkan kepada kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAW. Atau hadits-hadits Nabi yang telah beliau ketahui dan beliau anggap sah (terang). Dalam hal ini beliau pernah berkata :”hukum itu ada dua macam:1. Hukum yang telah di datangkan oleh Allah atau Alquran,dan 2. Hukum yang datang dari Sunnah Rasul-Nya”
                 Tentang urusan hadist-hadist Nabi SAW. Beliau sangat berhati-hati dan amat teliti, sebagaimana di atas telah kami riwayatkan. Bahkan telah diriwayatkan oleh Imam Musa bin Daud, bahwa beliau (Imam Malik) jika telah ragu-ragu tentang sesuatu hadis, lalu segera melemparnya sama sekali. Dari karenanya hadis-hadis telah dipandang kuat dan dianggap sah oleh beliau,lalu dipergunakan alasan sebagaimana dasar-dasar untuk menetapkan hukum.
                 Dan beliau pernah berkata:”barang apa yang ada di kitab Allah,atau barang apa yang telah dihukumkan atau di putuskan oleh Sunnah Rasullulah SAW. Maka ia itulah yang benar, tidak ada keragu-raguan padanya”.
                 Imam Maliki apabila hendak memutuskan suatu hukum, padahal sepanjang penyelidikan bekiau belum di dapati nash (keterangan) yang  jelas dari Alquran, dan belum tidak pula di dapati nashnya dari sunnah Rasullulah SAW. Maka beliau mengikut ijma’ para ulama ahli Madinah. Dan apa bila tidak di dapati ijma’ ulama ahli Madinah, maka barulah beliau mengambil dan memutuskan dengan jalan Qiyas,memperbandingkan dari ayat Alquran dan Sunnah Rasul. Kemudian tidak mungkin dengan jalan Qiyas, tidak dapat dengan jalan memperbandingkan hukum dari Quran dan Sunnah, maka beliau baru memutuskan dengan jalan “Mahalihul-Mursalah” atau “istishlah” yakni memelihara tujuan agama dengan jalan menolak kebinasaan atau mnuntut kebaikan.
                 Adapun hokum-hukum yang beliau ambil dengan dasar Qiyas dan Istishlah itu, ialah segala perkara yang bersangkut paut dengan urusan “Muamalah “ atau yang berhubungan dengan urusan keduniaan, bukan yang bertalian dengan urusan “Ubudiyah”(peribadatan). Demikianlah singkatnya tentang dasar-dasar hokum yang di ambil oleh Imam Maliky.
J.     Dasar-Dasar Mazhab Imam Maliki
     Diatas telah kami uaraikan tentang dasar-dasar hokum yang diambil dan dilakukan oleh Imam Maliki. Maka dengan dasar yang telah diambil dan dilakukan oleh beliau yang utama itu, kami dapat mengambil kesimpulan, bahwa dasar  mazhab beliau itu ialah sebagai berikut:
1.      Kitab Allah (Al-Quran)
2.      Sunnah Rasul yang telah beliau pandang sah
3.      Ijma para ulama ahli madinah. Dan dengan dasar ini kadang-kadang beliau menolak hadis apabilah ternyata berlawanan atau tidak diamalkan oleh para ulama madinah.
4.      Qiyas dan
5.      Istishlah atau mashalihul mursalah. Artinya istishlah ialah mengekalkan apa yang telah ada karena ketiadaan yang mengubahkan hokum, atau karena sesuatu hal yang belum diyakini. Adapun mashalihul mursalah ialah memelihara tujuan syara’ (pimpinan agama) dengan jalan menolak segalah sesuatu yang merusakkna makhluk.
K.  Kewafatan Imam Maliky
                 Yang mulia Imam Maliky, sesudah lebih dari 60 tahun menjabat selaku mufty besar di Madinah, sesudah lebih dari 60 tahun menjabat guru besar dalam urusan agama di kota Madinah,sesudah lebih dari 60 tahun mengorbankan tenaganya, pikiranya dan kadang-kadang harta bendanya untuk kepentingan hdis-hadis Nabi SAW. Dan sesudah lebih dari 60 tahun memberikan pelajaran kepada khalayk ramai tentang urusan agama Islam, maka pada hari Ahad tgl 10 bulan Rabbiul Awal tahun 179 hijrah(798 masehi) wafatlah beliau dengan tenang, dalam usia 87 tahun.
                 Sepanjang riwayat : dikala beliau hamper wafat, lalu beliau berpesan supaya dikafani (diulasi) dengan sebagian kain putih yang biasa dipakainya, dan disembahyankan jenazah. Kemudian jenazah beliau dimakamkan di Baqi’ di luar kota Madinah, ialah sebuah tempat kubur di kala itu yang terkenal hingga sekarang . Tidak sedikit jumlah orang yang memakamkan jenazah beliau.
                 Beliau wafat,selain meninggalkan kitab karangannya yang terkenal “Al-Muwaththa”, yang hingga kini masih tetap menjadi sebuah kitab yang bermutu tinggi di dalam lingkungan masyarakat umat islam, yang juga beliau meninggalkan beberapa ratus pata kata yang mengandung tuntunan luhur bagi umat islam. Disamping itu beliau meninggalkan beberapa orang anak buah pimpinan beliau, yang akhirnya menjadi ulama dan zu’ama muslimin yang terkemuka di dunia islam pada masa kemudian beliau.
                 Berita kewafatan beliau dikala itu setelah tersiar di seluruh dunia islam, terutama di kota Irak (pusat pemerintahan islam di masa itu), gonjanglah umat islam di mana-mana di kala itu, terutama umat islam di Irak, dan pada umumnya merasa bersedih terhadap kewafatannya.
                 “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
                 Beliau wafat meningglkan tiga orang putra dan seorang puteri, yang nama-namanya ialah: Yahya, Muhammad, Hammadah, dan Ummu Abiha. Dan harta yang ditinggalkan ialah uang  emas sebanyak lebih dari 3. 300 dinar.
BAB III
PENUTUP
A.   Kasimpulan
           Adapun kesimpulan dari penulisan makalak ini adalah sebagai berikut:
1.      Imam Maliky dilahirkan di kota Madinah daerah negeri Hijaz, menurut yang mansyur  pada tahun 93 Hijriah( 712 Masehi). Nama beliau  dari mulai kecil ialah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al ashbahy, dengan riwayat ini jelaslah bahwa beliau adalah seorang dari keturunan bangsa Arab dari dusun Dzu Ashbah, sebuah dusun di kota Himyar dari jajahan negeri Yaman.
2.      Dan sesudah lebih dari 60 tahun memberikan pelajaran kepada khalayk ramai tentang urusan agama Islam, maka pada hari Ahad tgl 10 bulan Rabbiul Awal tahun 179 hijrah(798 masehi) wafatlah beliau dengan tenang, dalam usia 87 tahun.
3.      dasar  mazhab beliau itu ialah sebagai berikut:
1)      Kitab Allah (Al-Quran)
2)      Sunnah Rasul yang telah beliau pandang sah
3)      Ijma para ulama ahli madinah. Dan dengan dasar ini kadang-kadang beliau menolak hadis apabilah ternyata berlawanan atau tidak diamalkan oleh para ulama madinah.
4)      Qiyas dan
5)      Istishlah atau mashalihul mursalah. Artinya istishlah ialah mengekalkan apa yang telah ada karena ketiadaan yang mengubahkan hokum, atau karena sesuatu hal yang belum diyakini. Adapun mashalihul mursalah ialah memelihara tujuan syara’ (pimpinan agama) dengan jalan menolak segalah sesuatu yang merusakkna makhluk.

B.   Saran
           Adapun saran  penulis adalah penulisan makalah tentang Biografi Imam Mashab hendaknya di gunakan beberapa referensi buku agar dapat membandingkan penetapan hokum yang mazhab satu dengan  mazhab lainnya.
                       















DAFTAR PUSTAKA
Chalil, Moenawar. 1994. Biografi Empat Sreangkai Imam Mazhab. Jakarta: Bulan Bintang.
Asy-syurbasi, Ahmad. 1991. Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar