Sabtu, 21 Mei 2011

KATA DAN DIKSI

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Seorang yang menguasai banyak kosa kata dapat menyampaikan gagasannya dengan baik. Namun, akan lebih baik lagi jika dalam mengungkapkan gagasannya, ia dapat memilih atau menempatkan kata secara tepat, seksama, dan lazim. Pilihan kata atau diksi secara cepat dimaksudkan sebagai pemilihan atau penempatan kata sesuai dengan kelompoknya dalam kaidah sintaksis. Seksama dimaksudkan sebagai pemilihan kata sesuai dengan makna dan apa yang akan disampaikan. Sedangkan lazim, dimaksudkan bahwa kata yang digunakan dalam konteks kalimat atau wacana, telah lazim dalam kaidah bahasa Indonesia.
Cakupan yang dibahas dalam kata dan diksi (pilihan kata) berkaitan dengan kaidah sintaksis, kaidah makna, dan kaidah sosial makna. Oleh sebab itu, urian dibawah ini akan menyoroti tentang; (1) kata abstrak dan kongkret, (2) kata umum dan khusus, (3) denotasi dan konotasi, (4) sinonim, (5) antonym, (6) homonym, (7) idiom, dan (8) majas.
B.   Rumusan Masalah
Adapu tujuan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari kata dan diksi?
2.      Apa perbedaan antara denotasi dan konotasi?
3.      Bagaimana perbedaan sinonim, antonym dan homonim?
4.      Bagaimana proses pembentukan kata?
5.      Berapa macam penggolongan kata?
C.   Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian kata dan diksi
2.      Untuk mengetahui dan memahami perbedaan antara denotasi dan konotasi
3.      Untuk mengetahui dan memahami perbedaan sinonim, antonym dan homonim
4.      Untuk mengetahui dan memahami proses pembentukan kata
5.      Untuk mengetahui dan memahami macam-macam penggolongan kata
D.   Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah memberikan informasi kepada para pembaca berupa pengetahuan tentang proses pembentukan kata dan pilihan kata atau diksi serta membantu pembaca untuk  memilih kata yang baik dan benar dalam penulisan karya-karya ilmia ataupun pemilihan kata dalam pergaulan sehari-hari sehingga penggunaan kata-katanya sesuai dengan situasi dan kondisi.







BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pembentukan Kata
Ada dua macam pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan.
Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya
Tata
Daya
Serba
Tata baku
Daya tahan
Serba putih
Tata bahasa
Day pukul
Serba plastik
Tata rias
Daya tarik
Serba kuat
Tata cara
Daya serap
Serba tahu
Hari
Tutup
Lepas
Hari sial
Tutup tahun
Lepas tangan
Hari jadi
Tutup buku
Lepas pantai
Hari besar
Tutup usia
Lepas landas
 Dari luar bahasa Indonesiaterbentuk kata-kata melalui pungutan kata, misalnya
Bank
Wisata
Kredit
Santai
Valuta
Nyeri
Televisi
Candak kulak
Kata-kata pungut adalah kata yang diambil dari kata-kata asing. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan kita terhadap nama dan penamaan benda atau situasi tertentu yang belum dimilki oleh bahasa Indonesia. Pemungutan kata-kata asing yang bersifat internasional sangat kita perlukan karena kita memerlukan suatu komunikasi  dalam dunia dan teknologi modern, kita memerlukan komunikasi yang lancar dalam segala macam segi kehidupan. 
Kata-kata pungut itu ada yang dipungut tanpa diubah, tetapi ada juga yang diubah. Kata-kata pungut yang sudah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia disebut bentuk serapan.
Bentuk-bentuk serapan itu ada empat macam.
1.      Kita mengambil kata yang sudah ada sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Yang termasuk kata-kata itu adalah
·         Bank
·         Opname, dan
·         Golf
2.      Kita mengambil kata dan menyesuaikan kata itu dengan ejaan bahasa Indonesia. Yang termasuk kata-kata itu ialah
·         Subject                         subjek
·         Apotheek                     apotek
·         Standard                    standar
·         university                  universitas
3.      Kita menerjemahkan isitilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia. Yang tergolong kedalam bentuk ini ialah
·         Starting point              titik tolak
·         Meet the prees                          jumpa pers
·         Up to dete                   mutkhir
·         Briefing                       taklimat
·         hearing                       dengar pendapat
4.      Kita mengambil istilah yang tepat seperti aslinyakarena sifat keuniversalannya. Yang termasuk golongan ini ialah
·         De facto
·         Status quo
·         Cum laude
·         Ad hoc
a)      Kata Dasar
Kata-kata seperti: belah, perangai, dan mirip lazim disebut sebagai kata dasar. Melalui kata dasarlah pembentukan kata turunan atau berimbuhan dan yang lainnya  terjadi. Secara sintaksis kata dasar dapat menempati fungsi subjek, predikat, objek atau keterangan. Dalam perkembangannya, kata dasar jumlahnya akan terus bertambah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan budaya pemakainya.
b)      Kata Berimbuhan
Apabilah kata-kata: belah, perangai, dan mirip dinamakan kata dasar, maka dibelah, berperangai, dan kemiripan di sebut kata berimbuhan. Cirri-ciri kata berimbuhan ditandai oleh:
1)      Adanya kata dasar
2)      Kata dasar tersebut dilekati morefem terikat beruba imbuhan, imbuhan yang dimaksud berupa awalan, akhiran, gabungan awalan dan akhiran, sisipan, dan konfiks.
c)      Kata Majemuk
Dalam bahasa Indonesia ada bentuk yang terdiri atas dua kata seperti: bandar udara dan sapu tangan, yang secara sintaksis berstatus sebagai kata. Sepintas bentuk tersebut mirip dengan pembentukan frasa atau kelompok kata. Akan tetapi, bentuk Bandar udara dan sapu tangan tidak termasuk frasa. Keduanya digolongkan kedalam kata majemuk atau kompositum.
Selain secara sintaksis berstatus sebagai kata, kata majemuk memiliki beberapa cirri khusus sebagai berikut.
1)      Pembentukan kedua unsurnya memperlihatkan suatu keeratan, sehingga otonominya sebagai kata dasar hilang.
Contoh: sapu tangan
2)      Diantara kedua unsure tesebut tidak dapat disisipi morfem lain tanpa perubahan atas makna aslinya. Jadi, kata majemuk sapu tangan tidak disispi oleh sapu untuk tangan atau sapu yang terbuat dari tangan.
3)      Karena keeratan dan tidak dapat dissipi, maka setiap kata majemuk memiliki arti khusus. Misalnya, kata sapu tangan berarti sepotong kain (cita) persegi untuk menyapu atau mengelap keringat.
4)      Setiap kata majemuk memiliki kelas kata berdasarkan unsur yang membentuknya. Dengan demikian, sapu tangan yang dibentuk dari unsur sapu dan tangan dapat dikategorikan  sebagai kata benda.
5)      Beberapa bentuk kata majemuk sala satu bentuk morfem dasarnya merupakan bentuk unik.
Contoh:
Mata hari  >>>  matahari
Per segi >>> persegi
Pas foto >>> pasfoto
d)      Kata Ulang
Kata ulang atau reduplikasi adalah proses pembentukan kata berdasarkan pengulangan bentuk dasar. Bentuk dasar tersebut dapat berupa kata dasar, kata berimbuhan, atau kata majemuk. Pengulangan yang terjadi dapat berlangsung secara utuh atau sebagian. Kata ulang terbagi atas dua macam sebagai berikut.
1)      Kata ulang utuh merupakan kata ulang  yang diturunkan dari bentuk dasar secara utuh, contoh:
-          Putih-putih
-          Pertanyaan-pertanyaan
2)      Kata ulang sebagian merupakan kata ulang yang diturunkan dari bentuk dasarnya tidak secara utuh, terbagi atas tiga bagian yaitu:
                                                        I.            Kata ulang berimbuhan, ciri-ciri kata ulang ini adalah sebagian bentuk dasarnya berupa kata dasar. Sedangkan pengulangan yang terjadi salah satu unsur yang diulang  berubah menjadi kata berimbuhan. Contoh:
-          Obat-obatan
-          Bersiap-siap
                                                     II.            Kata ulang berubah bunyi, cirri-ciri kata ulang ini dapat dikenali dengan adanya bentuk dasar yang diulang disertai oleh variasi perubahaan bunyi. Perubahan tersebut dapat berupa variasi pada bunyi vocal /a./ dan /i/ pada kata ulang misalnya, kerlap-kerlip. Atau variasi pada bunyi konsonan seperti /r/ dan /t/ pada kata ulang ramah-tamah.
                                                   III.            Kata ulang sebagian murni. Proses pembentukan kata ulang ini secara bertahap. Sebagai contoh, kata ulang tetamu di turunkan dari bentuk dasar tamu dan diulang menjadi tamu-tamu. Kemudian pengulangan yang terjadi hanya pada suku pertamanya, dengan cara melemahkan vokalnya, sehingga menjadi tatamu dan berubah lagi menjadi tetamu.
B.   Penggolongan Kata
Kata dapat digolongkan berdasarkan bentuk dan prilakunya, kata yang memiliki bentuk dan prilaku yang sama dikelompokkan kedalam kategori atau kelas kata tertentu. Menurut pengelompokan tersebut, bahasa Indonesia mengenal lima kata yakni:
1)      Kata kerja atau verba
Ciri-ciri kata kerja dapat diamati melalui bentuk morfologisnya, prilaku sintaksis dan semantisnya secara menyeluru dalam kalimat. Dari segi bentuk, kata kerja mencakup kata dasar seperti: pulang, mandi; kata berimbuhan seperti: berdoa, belajar; kata ulang seperti: berlari-lari, sayang-menyaayangi; dan kata majemuk seperti: naik haji, cuci muka. Fungsi utama kata kerja dalam kalimat adalah sebagai predikat.
2)      Kata benda atau nomina
Ciri-ciri kata bneda dapat diamati melalui bentuk morfologisnya, segi sintaksis dan semantic. Dari segi bentuk kata bneda mencakup kata dasar seperti: ruang, rumah; kata berimbuhan seperti: kendaraan, makanan; kata ulang seeprti: wangi-wangian, tetumbuhan dan kata majemuk seperti: rumah sakit, pagar betis. Fungsi utama kata benda dalam kalimat yang berpredikat kata kerja, kata benda cenderung menduduki subjek, objek atau pelengkap.
3)      Kata sifat atau ajektiva
Kata sifat ialah kata yang digunakan untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, atau binatang. Fungsi kata sifat dalam kalimat dapat berfungsi sebagai predikat. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a.       Kata sifat dafat diberi keterangan pembanding seperti: lebih, kurang, paling, misalnya: lebih enak, kurang enak, paling ramah.
b.      Kaat sifat dapat diingkari dengan kata ingkar: tidak, misalnya: tidak panas, tidak indah, tidak suka.
c.       Kata sifat dapat diberi keterangan penguat seperti: sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu. Contoh: sangat murah, amat besar, hebat sekali, terlalu merah.
d.      Kata sifat dapat diulang dengan gabungan imbuhan se-nya seperti: sebaik-baiknya, setinggi-tingginya.
e.       Kata sifat pada kata tertentu dapat akhiran yang diserap dari bahasa asing seperti: -er, -wi, -iah, -if, -al, dan –ik. Contoh: honorer, kimiawi, alamiah, alternative, formasi, dan elektronik.
4)      Kata keterangan adverbial
Kata keterangan adalah kata yang memberi keterangan pada kata kerja, kata sifat, kata benda yang menempati fungsi predikat, atau kalimat. Kata keterangan dapat berupa morfem atau lebih. Contoh: hanya, sebaiknya. Kata keterangan yang dibentuk dari dua morfem , proses pembentukannya melalui salah satu cara berikut:
a.       Pengulangan kata dasar, contoh: pelan-pelan.
b.      Pengulangan kata dasar dan menambahkan akhiran –an, contoh: gila-gilaan.
c.       Menambahkan gabungan imbuhan se-nya pada kata dasar. Contoh: selemah-lemahnya.
d.      Penambahan –nya pada kata dasar, contoh: agaknya.
5)      Kata tugas
Kata tugas mencakup kata depan atau preposisi, kata sambung atau kongjungsi, dan partikel. Kata yang bertugas unsure pembentuk frasa preposisional disebut kata depan. Misalnya: I, ke dari. Sebagai salah satu unsure pembentuk frasa preposisional, kata depan di dapat membentuk di kantor, dari kantor, ke kantor. Kata tugas yang menghubungkan dua klausa atau lebih di sebut kata sambung. Contoh: dan, kalau, atau.
C.   Diksi atau Plilihan Kata
Dalam bahasa Indonesia, kata diksi berasal dari kata dictionary (bahasa Inggris yang kata dasarnya diction) berarti perihal pemilihan kata. Dalam Webster (Edisi ketiga, 1996 diction diuraikan sebagai choice of words eps with regard to corretnness, clearness, or efectiveness. Jadi, dikisi membahas penggunaan kata, terutama pada soal kebenaran, kejelajasan, dan keefektifan.
Untuk menyusun kalimat efektif, hendaknya dipilih kata yang tepat, ialah yang memenuhi isoformisme, yaitu kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau adanya kesamaan struktur kognitif (Putrayasa, 2005). Isoformisme terjadi manakala komunikan-komunukan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, dan idiologi yang sama. Pendeknya, komunikan-komunikan tersebut mempunyai sejumlah pengalaman yang sama. Kalimat berikut hanya bisa dipahami secara tuntas oleh mereka yang mempunyai pengalan yang sama dengan penulisnya. Misalnya:
1)      Keluarga Ida Gede seminggu yang lalu ngaben
2)      Di Bali terdapat suatu organisasi yang namanya subak
3)      Tingkat yang lebih serius ialah sindroma parkinson yang kini diderita oleh ‘si mulut besar’ Muhaammad Ali
4)      Akan lebih syahdu lagi kalau yang pianisimo diganti dengan adante.
Di samping pemilihan kata-kata yang memenuhi isoformisme, juga harus diperhatikan hal-hal berikut.
a.      Pemakaian Kata Bersinonim dan berhonofon
Kata-kata yang bersinonim ada yang dapat saling menggantikan ada pula yang tidak. Karena itu, kita harus memilihnya secara tepat dan saksama. Misalnya, kata asas bersinonim denagan kata dasar, pokok, dan prinsip. Dalam penggunaan kalimat keempat kata tersebut tidaklah semuanya bisa saling menggantikan satu sama lain.
Contoh:
Jagung makanan asas bangsa itu.
Penggunaan kata asas  dalam kalimat tersebut kurang tepat sehingga kalimatnya tidak efektif. Akan menjadi tepat bila kata asas  deganti dengan kata pokok. Kalimatnya menjadi: Jagung makanan pokok bangsa itu.
Hal serupa dapat kita lihat pada contoh-conto berikut. kata buku bersinonim dengan kitab. Demikian juga kata salin  bersinonim dengan kata ganti, tukar, adan ubah. Kata-kata bersinonim tersebut tidak saling menggantikan dalam kalimat. Demikianlah kata buu dalam kalimat. Dia mengikuti kursus tata buku, tidak saling digantikan dengan: Dia mengikuti kursus tata kitab. Demikian juga kata bersalin tidak memliki kemiripan arti dengan kata berganti, bertukar, dan berubah.
Disamping kata-kata tersebut, kata semua,seluruh, sagala, sekalian, dan segenap memiliki peresamaan dan perbedaan arti. Persamaan arti menyebabkan kata itu dapat saling dipertukarkan, sedangkan perbedaan arti menyebabkan kata lain itu tidak dapat saling dipertukarkan.
Kata semua bermakna setiap anggota terkena atau termasuk dalam hitungan. Makna itu terlihat pada contoh berikut.
a)      Semua warga kota diungsikan
Kata seluruh juga mengandung makna, bahwa setiap anggota termasuk dalam hitungan, tetapi dalam pengertian kelompokan atau kolektif. Kalimat tersebut dapat diubaha dengan mempertukarkan kata semua dengan seluruh sebagai berikut.
b)      Seluruh warga kota diungsikan.
Akan tetapi, pada dua kalimat berikut pemakaian kedua kata itu memiliki makna berbeda.
(a)    *Semua bangsa Indonesia menjunjung bahasa persatuan.
(b)    Seluruh bangsa Indonesia menjunjung bahasa persatuan.
Perbedaan itu terjadi karena pemakaian kata semua ditekankan pada jumlah yang banyak, sedangkan pemakaian kata seluruh ditekankan pada satu benda yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Bangsa Indonesia pada kalimat (c) dan itu lebih tepat daripada kata semua. Hal nyata juga tampak pada perbandingan berikut.
(c)    Semua ruangan akan dibersihkan dan dicat lagi.
(d)   Seluruh ruanagan akan dibersihkan dan dicat lagi.
Semua ruangan menyiratkan makna adanya beberapa ruangan. Sementara itu, seluruh ruangan pada kalimat (f) mengandung pengertian adanya satu ruangan yang sam bagiannya dibersihkan dan dicat lagi. Makna ‘semua bagian’ juga terlihat pada kalimat berikut.
(e)    Seluruh tubuh terkena tumpahan minyak.
Dalam kalimat itu kata seluruh tidak dapa ditukar dengan semua.
Kata segala menyatakan makna ‘semua mamam’. Jadi, kata segala dipakai untuk mengacu pada benda yang beraneka ragam. Pada kalimat berikut kata segala dapat dipertukarkan, tetapi ada sedikit perbedaan makna.
(f)    Dewi ingin melihat segala bunga yang terdapat di kebun itu.
(g)    Dewi ingin melihat semua bunga yang terdapat di kebun itu.
Kalimat (h) menyirat pengertian, bahwa di kebun itu ada berbagai jenis bunga. Kalimat (i) mengandung dua pengertian, yaitu mungkin satu jenis bunga saja yang ada di kebun itu atau mungkin pula ada berbagai jenis.
Jika benda yang ditunjuk kata segala tidak beragam, penggunaannya akan janggal, seperti terlihat pada kalimat berikut.
(h)*Segala siswa kelas enam menghadapi ujian akhir.
kata sekalian menyatakan keserentakan. Kata sekalian hanya digunakan untuk mengacu pada orang atau manusia. Hal. itu terlihat pada kejanggaln pemakainnya pada kalimat berikut.
(i)  *Sekalian meja akan diangkut ke tempat lain.
Kata sekalian dapat dipertukarkan dengan semua serperti pada kalimat berikut.
(j)  Sekalian orang di ruangan itu menengok kepadanya.
(k)Semua orang di ruangan itu menengok kepadanya.
Kata segenap juga menyatakan makna’semua’, tetapi dalam pengertian kelengkapan. Dalam hal ini maknanya mirip dengan kata seluruh.
(l)  Segenap bangsa Indonesia menjunjung bahasa persatuan.
Perbedaannya dengan kata seluruh ialah bahwa kata seluruh biasanya diikuti
(m) *Kita akan melindungi segenap binatang dari kepunahan.
(n)   *Segenap tubuhnya terkena tumpahan minyak.
b.      Pemakaian Kata Brermakna Denotasi dan Konotasi
Sebuah kata yang hanya mengacu pada makna konseptual atau makna dasar berfungsi denotatif. Kata lain kecuali denotasi juga merupakan gambaran tambahan yang mengacu pada nilai dan rasa berfungsi konotatif (Putrayasa, 2005). Nilai dan rasa kata diberikan oleh masyarakat. oleh karena itu, sebuah kata akan dinilai tinggi, baik, sopan, lucu, biasa, rendah, kotor, porno, atau sakral bergantung pada masyarakat pemakainnya. Dalam mengarang, hendaknya digunakan kata-kata yang bermakna denotasi agar terlepas dari tafsiran yang menyimpang dari apa yang kita maksud.
Makna konotasi dibedakan atas dua bagian, yakni konotasi positif dan konotasi negatif. Makna konotasi positif adalah makna tambahan dari makna kata sebenarnya yang bernilai rasa tinggi, baik, sopan, santun, sakral, dan sejenisnya.Sementara itu, makna konotasi negatif adalah makna tambahan dari makna kata sebenarnya yang bernilai rasa rendah, kotor, porno, jelek, jorok, dan sejenisnya. Misalnya, kit ambil contoh kata mati. Kata mati bersinonim dengan kata meninggal,gugur, wafat, mangkat, tewas, binasa, dan mampus.. Kita bisa mengatakan kalau seorang penjahat mati ditembak polisi karena kejahatannya seperti ini: “Panjahat itu wafat/gugur/mangkata ditembak polisi karena merampok Bank kemarin”. Akan menjadi efektif kalau kata wafat/gugur/mangkat dalam kalimat tersebut diganti dengan kata tewas karena situasi kalimatnya ememang kalimat mendukung. Konotasi penjahat adalah jelek, tidak baik. Oleh karena itu, kata yang tepat digunkan adalah kata tewas.  Sebaliknya, kata gugur misalnya, memiliki konotasi positif. Oleh karena itu, kata gugur tepat digunakan untuk orang yang berjasa bagi negara, seperti para pahlawan. Misalnya, “Para pahlawan gugur di medan perang dalam melawan penjajah”.
c.       Pemakaian Kata Umum dan Kata Khusus
Pernedaan ruang lingkup acuan makna suatu kata terhadap kata lain menyebabkan lahirnya istilah kata umum dan kata khusus. Makin luas ruang lingkup acuan makna sebuah kata, makin umum sifatnya. Makin sempit ruang lingkup acuan maknanya, makin khusus sifatnya. Dengan kata lain, kata umum memberikan gambaran yang kurang jelas, sedangkan kata khusus memberikan gambaran yang jelas dan tepat. Karena itu, untuk mengefektifkan penuturan lebih tepat dipakai kata khusus daripa kata-kata umum Misalnya:
      Umum                                                  Khusus
(a)    melihat                                                 memandang (gunung/sawah/laut)
menonton (wayang/drama/film)
menengok (orang sakit)
menatap (muka gambar)
menentang (matahari)
menoleh (ke kiri/kanan)
meninjau (daerah-daerah)
menyaksikan (pertandingan sepak bola)

(b)   jatuh                                                     roboh (rumah/gedung)
rebah (pohon pisang/tebu/badan)
tumbang (pohon besar)
rontok (daun-daun/bunga-bunga)
longsor (tanah)

(c)    buah                                                      apel, mangga, durian, pisang, rambutan,
nangka, manggis, dsb.
(d)   bunga                                                   melati, mawar, anggrek, kamboja, dsb.

Pada contoh (a) dan (b), kata umum itu mengandung arti inti, sedangkan kata-kata ksusus yang bersinonim mengandung arti tambahan (arti khusus). Pada contoh (c) dab (d), kata umum itu merupakan superordinatnya, sedangkan kata-kata ksusus yang merupakan kelas bawah disebut hiponim. Contoh pemakaiannya dapat dilihat pada uraian berikut ini.
Kata melihat  adalah kata yang secara umum mengungkapkan ihwal mengetahui sesuatu melalui indra mata. Jadi, kata itu tidak hanya menyatakan ihwal membuka mata serta menunjukkan ke objek tertentu, tetapi juga mengetahui ihwal objek itu. Pengertian itu tanpak pada kalimat berikut.
1)      Banyak orang yang melihat kejadian itu
kata melihat tidak hanya digunakan untuk menyatakan perbuatan secara fisik, tetapi juga tindak pikir, terutama jika objeknya abstrak. Perhatikan contoh berikut!
2)      Menteri perdagangan melihat perkembangan ekspor nonmogas yang cukup menggebirakan akhir-akhir ini. tetapi juga dengan membaca atau mendengarkan laporan tentang kegiatan. ekspor. Dengan kata lain., perbuatan melihat pada contoh (2) tidak hanya dilakukan dengan mata.
3)      Calon pembeli itu akan melihat-lihat keadaan rumah kami.
Pada contoh (3), perbuatan melihat dilakukan secara sambil lalu dan santai untuk memperoleh gambaran umum tentang keadaan rumah yang diamati.
Kata memandang menyatakan perbuatan memerlihatkan objek dalam waktu tang agak lama dengan arah yang tepat. Perbuatan ini melibatkan emosi pelakunya. Contohnya terlihat pada kalimat berikut.
1)      Dia memandang orang asing itu dengan heran.
Kata memandang tidak selalu dipakai untuk memacu pada perbuatan secara fisik, tetapi dapat juga mengacu pada sikap. Dalam pemakaian seperti itu, kata memandang bersinonim dengan menganggap seperti pada contoh berikut
2)      ia memandang ringan tugas diberikan kepadanya.
Kata memandang dan terpandang  yang berhubungan dengan bentuk memandang umumnya mengacu pada hal yang indah atau baik.
3)      Para pendaki gunung berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan disekitarnya.
4)      Pada Raminra termasuk orang yang terpandang di daerah ini.
Jika ada pemandangan yang tidak indah, penjelasan tentang hal itu harus dinyatakan. Perhatikan conto berikut!
5)      Orang terpaksa menyaksikan pemandangan yang tidak sedap karena sampah yang menumouk di pinggir jalan itu.
Kata menatap menyatakan perbuatan memerhatikan objek yang sedap dari jarak dekat. Contohnya terlihat pada kalimat berikut.
6)      Ia menatap gambar yang dipamerkan itu satu per satu.
Pada pemakain kata memandang yang ditekankan adalah objek yang menarik, sedangkan pada pemakain kata menatap yang ditekankan adalah hanya keinginatahuan atau kemelitan pada diri pelaku. Oleh sebab itu, perbuatan itu dilakukan dalam waktu relatif lama dan pelaku merasa perlu mendekat pada objek. Hal itu terbukti pada ketidakberterimaan contoh berikut.
7)      Gambar itu tidak enak ditatap mata.
pada tindakan fisi seperti kalimat (11) ataupun tindakan nonfisik seperti kalimat (12)
8)      Sang harimau mengamati gerak-gerik calon mangsanya.
9)      Pakar ekonomi itu tengah mengamati perkembangan perekonomian Indonesia.
Kata menonton menyatakan perbuatan melihat objek karena didorong oleh rasa ingin tahu terhadap apa yang terjadi. Perbuatan itu dapat juga dimaksudkan untuk menghibur diri. Cotohnya seperti terlihat pada kalimat berikut.
10)  Dalam kecelakaan itu banyak orang datang untuk untuk menonton saja.
11)  Mereka menonton pertandingan tinju itu melalui televisi.
kata menyaksikan menyatakan perbuatan melihat sesuatu untuk mengetahui kebenarannya. Pelaku mungkin (a) tidak dituntut harus tahu kebenaran itu oleh pihak lain, kecuali oleh dirinya sendiri, dan mungkin pula (b) dituntut harus tahu. Perhatikan contoh kalimat berikut ini!
12)  Ia menyaksikan pertunjukan itu.
13)  Ia menyaksikan uji coba mesin yang dibuatnya itu.
14)  Ia menyaksikan penandatanganan perjanjian itu.
Pada kalimat (15), pelaku tidak harus tahu akan jalannya pertunjukan sekalipun ia merasa perlu tahu. Pada contoh tersebut, kata menyaksikan dapat diganti dengan menonton. Pada kalimat (17), pelaku dituntut oleh pihak lain untuk tahu akan kebenaran peristiwa peanndatanganan itu. Penggantian kat menyaksikan dengan menonton pada kalimat (16) dan (17) menimbulkan perbedaan makna.
Kata mengawasi menyatakan op[erbuatan melihat objek dengan cermat kalau-kalau ada perbuatan keadaan yang yang menimpang dari yang diharapkan.
Contohnya terlihat pada kalimat berikut.
15)  Ibu itu sedang mengawasi anaknya yang asyik bermain-main.
16)  Atasan harus berani mengawasi bawahannya.
Kini, kata meninjau lebih sering digunakan untuk menyatakan perbuatan mendatangi suatu tempat untuk mengetahui keadaannya. Pelakunya adalah orang yang memiliki wewenang atau hak untuk melakukan peninjauan, seperti berturut-turut terlihat pada contoh (20) dan (21) berikut ini.
17)  Bupati akan meninjau kecamatan yang dilanda bencana itu.
18)  Saya akan meninjau rumah yang akan saya beli di Bandung
Kata meninjau dapat juga dipakai untuk mengacu pada tindakan yang tidak bersifat fisik. Dalam pemakaian seperti itu, kata meninjau bersinonim dengan melihat-lihat, seperti contoh berikut.
19)  Saya akan meninjau kembali usulnya
20)  Kita akan meninjau acara kita esok hari.
d.      Pemakaian Kata-kata atau Istilah Asing
Dalam membuat kalimat, penggunaan kata-kata atau istilah-istilah asing sedapat mungkin dihindari. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara kita. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menggunakan beberapa pertimbangan untuk menerima atau menolak unsur pungutan. Pertimbangan-pertimbangan tersebut ialah.
(1)          perasaan cermat tidaknya bahasa sendiri dalam perbedaan nuansa makna: biologi, biologis,
(2)          perlu tidaknya kata yang bersinonim: asimilasi, pembaruan,
(3)          ad tidaknya pengakuan gengsui bahasa asing: kalibrasi, evaluasi, dan
(4)          tinggi rendahnya kemampuan serta kemahiran dalam bahasa sendiri, misalnya: dalam mana, di mana, dan kepada siapa.
Dalam memilih kata, hendaknya kita memerhatikan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat pemkai bahasa. Kata-kata tabu dan kata-kata yang mengacu pada konotasi tertentu dihindarkan.
Sebuah karangan yang titujukan kepada masyarakat umum, yang mungkin amat heterogen, jeleas akan berbeda dengan tulisan yang ditujukan kepada masyarakan yang homogen, misalnya guru, para perawat, para peternak, dan sebgainya.
e.       Pemakaian Kata Abstrak dan Konkret
Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen berupa konsep, sedangkan kata konkret adalah adlah yang mempunyai referen berupa objek yang dapat diamati (akhadiah, 1999), Kata abstrak lebih sulit dipahami daripada kata konkret.
Dalam hal menulis, kata-kata yang digunakan sangat bergantung pada jenis dan tujuan penulisan. Jika yang akan deideskripsikan suatu faka, tentu saja harus lebih banyak digunakan kata-kata konkret. Akan yetapi, jika yang dikemukakan ialah klasifikasi atau generalisasi, maka yang banyak digunakan ialah kata-kata abstrak. Kerap kali, suatu uraian dimulai dengan kata abstrak (konsep tertentu), kemudian dilanjutkan dengan penjelasan yang menggunakan kata-kata konkret.
Contoh:
-                 Keadaan kesehatan anak-anak di desa sangat buruk.
-                 Banyak yang menderita malaria, radang paru-paru, cacingan, dan kekurangan gizi.
f.        Pemakaian Kata Populer dan Kata Kajian
Kata-kata besar, pindah, kecil, batu, waktu, isi, harga, dan lain-lain lebi dikenal oleh masyarakat daripa kata-kata seperti andal, acak, transfer, moinor, bantuan, monentum, faktor, volume, dan canggih. Kelompok kata yang pertama termasuk kata-kata populer. Kata-kata ini dipergunakan pada berbagai kesempatan dalam komunikasi sehari-hari dikalangan semua lapisan masyarakat. sebagaian besar kota kata dalam semua bahasa berupa bahasa kata-kata populer.
Kelompok kata yang lain hanya dikenal dan dipergunakan secara terbatas dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Kata-kata ini adalah kata-kata yang dipergunakan oleh para ilmuwan atau kelompok profesi tertentu dalam makalah atau perbincangan khusus. Di antara kata-kat jenis terdapat kata serapan atau kata asing (Latin, Yunani, Inggris).
Dewasa ini, pembentukan ata-kata kaian dalam bahasa indonesia dilskukan secara sadar oleh suatu badan/komisi. Dalam hal ini, ada beberapa ketentuanyang harus diikutidengan pedoman.
Bandingkan pasangan kata-kata berikut ini!
Populer                      Kajian
batu                           batuan
penduduk                  populasi
besar                          makro
banyak bantuan         canggih
isi                               volume
bisul                           abses
bunyi                         fonem
perbedaan                  kelainan
cara                            metopde
sejajar                        kesejajaran
bagian                        unsur, komponen, suku cadang
tahap                          stadium
arang                          karbon
berarti                        bermakna, signifikan
sah                             sahih
dapat dipercaya         terandalkan
g.      Pemakaian Jargon, Kata Percakapan, dan Slang
Dalam tulisan formal untuk khalayak yang lebih luas, lebih baik dihindari kata-kata yang termasuk ‘jargo’. Istilah ‘jargon’ mempunyai beberapa pengertian, di antaranya kata-kata teknis yang digunakan secara terbatas dalam bidang ilmu, profesi, atau kelompok tertentu. Kata-kata ini kerap kali merupakan kata sandi/kode rahasia untuk kalangan tertentu (dokter, militer, perkumpulan rahasia).
Dalam percakapan informala, kaum terpelajar biasa menggunakan kata-kata percakapan. Kelompok kata-kata ini mencakup kata-kata populer, kata-kata kajian, dan slang yang hanya dipakai oleh kaum terpelajar.
Contoh:
Sikon (situasi dan kondisi), prokan (pro dan kontral), kep (kapten), dok (dokter), prik (suntik), dan sebagainya.
Pada waktu-waktu tertentu, banyak terdengar slang, Yaitu kata-kata tidak baku yang dibentuk secara khas sebagai cetusan keinginan terhadap sesuatu yang baru. Kata-kata ini bersifat sementara: kalau sudah terasa usang, hilang, atau menjadi kata-kata biasa (asoy, mana tahan, baenol, selangit, dan sebagainya), yang mungkin hanya dikenal di daerah tertentu.
h.      Bahasa Prokem
Bahasa prokem adalah sandi yang digemari dan dipakai di kalangan remaja tertentu (Sugono, 2003). Bahasa prokem ini konon berasaal bdari kalangan preman. Bahasa prokem ini digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun waktu tertentu. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Bahasa prokem itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya. Hal itu merupakan perilaku kebahasaan dan bersifat universal.
Kosa kata bahasa prokem di indonesia diambil dari kosa kata yang hidup di lungkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Baahasa prokem berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasaa prokem, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakata yang berbeda dari anggota kelompok masyarakat lain.
Kehadiran bahasa prokem itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja. Selain itu, pemakaiannya pun terbatas pula di kalangan remaja kelompok usia tertentu dan bersifat tidak resmi. Jika berada di luar lingkunan kelompoknya, bahasa yang digunakannya beralih ke bahasa lain yang berlaku secara umum di lingkungan masyarakat tempat mereka berada. Jadi, kehadirannya dalam pertumbuhan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah tidak perlu dirisaukan karena bagahasa itu masing-masing akan tumbuh dan berkembang sendiri sesuai dengan fungsi dan keperluannya masing-masing.
Berikut ini beberapa contoh kata bahasa prokem.
bokap                                    ‘bapak’
nyokap                      ‘ibu’
bonyok                      ‘bapak dan ibu’
cacing                        ‘petugas keamanan’
cuek                           ‘tidak acuh’
doi                             ‘dia’
doku                          ‘uang’
hebring                      ‘sangat hebat’
nglinting                     ‘ mengisap ganja’
Terkait dengan uaraian tersebut, (sugono,2003) menegaskan, bahwa seorang pembicara atau penulis akan memilih kata yang ‘terbaik’ unuk mengungkapkan pesan yang akan disampaikannya. Dengan demikian, kalimat yang dibentuknya menjadi efektif. Pilihan kata yang ‘terbaik’ adalah kata-kata yang memenuhi syarat
(1)          tepet (mengungkapkan gagasan secara cermat)
(2)          benar (sesuai dengan kaidah kebahasaa), dan
(3)          lazim pemakaiannya.
Berikut ini adalah contoh pemilihan kata yang tidak tepat.
(1)          Panade tidak mau lagi mendengarkan kata-kata temannya yang sudah terbukti suka membual. Ia mengacukhkan janji-janji yang diobral temannya dan menganggapnya angin lalu.
(2)          Surya sangat senang mendengar kabar itu dan ia berkilah kepada teman-temannya dengan bangga “Ternyata saya lulus”.
Jika dilihat konteksnya, dalam kalimat (1), kata mengabaikan lebih tepa daripa mengacuhkan yang berarti ‘memerhatikan’ dan pada kalimat (2), kata berkata lebih tepat daripada berkilah yang bermakna ‘berdalih’. Pilihan kata yang tidak benar dapat dilihat pada contoh berikut.
(3)          Polisi telah berhasil menangkap pelaku pengrusakan gedung sekolah itu.
(4)          Kedua remaja itu telah lama saling menyita.
Kata pengrusakan dan menyita bukanlah kata yang berbentuk secar benar. Bentuk yang benar adalah perusakan dan mencinta. Kata meninggal adalah kata baku di samping kata mati dan wafat. Akan tetapi, ketiganya memiliki kelaziman pemakain masing-masing. Perhatkan pemakainnya berikut ini!.
(5)          Petugas rumah sakit menyerahkan surat kematian yang menerangkan bahwa ayah saya telah meninggal setelah operasi yang gagal itu.
Dalam hal itu tentu tidak lazim digunakan surat kemeninggaln atau surat kewafatan. Padahal, kalimat Ayah saya meninggal atau Ayah saya wafat lebih lazim dan takzim daripa Ayah saya mati.
Contoh lain berkenaan dengan kata agung, akbar, dan raya yang semuanya bermakna ‘besar’. Makna ‘besar’ pada kata agung tidak berkenaan dengan fisik, tetapi dengan harkat, misalnya jaksa agung. Kata akbar bermakna besar luar biasa (maha besar). Kata raya juga bermakna besara, dipakai dalam hal-hal tertentu saja. Ada istilah jalan raya, dan hari raya di samping jalan besar dan hari besar, tetapi tidak lazim dikatakan jalan agung, jalan akbar, atau hari agung, hari akbar.
Berkenaan dengan kelaziman itu, pemakai bahasa memang perlu juga nilai rasa atau konotasi sebuah kata. Yang dimaksud konotasi ialah tautan pikiran yang menerbitkan nilai rasa. Konotasi dapat bersifat pribadi dan bergantung pada pengalamn seseorang sehubungan dengan kata aatau gagasan yang diacu oleh kata itu.
Di samping kata mati, ada pula kata meninggal, gugugr, wafat, mangkat, dan tewas. Kata mati digunakan dengan pengertian yang netral dan tidak bernilai rasa hormat. Kata meninggal digunakan untuk pahlawan atau orang-orang yang telah  berjasa bagi bagi negara, sedangkan kata gugur digunakan untuk pahlawan atau orang-orang yang meninggal seawaktu menjalankan tugas. Kata wafat digunakan untuk orang yang kita hormati. Kata mangkat dianggap lebih takzim daripada wafat. Kata tewas digunakan secara netral untuk orang yang meninggal dalam suatu musibah.
Ada orang yang menggunakan kata tidaklazim, misalnya kata yang berasal dari bahasa daerah, untuk menggantikan kata yang justru sudah lazim dalam bahasa indonesia. Sekalipun dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa hormat, tindakan itu berlibahan dan tindakan bijaksana. Marilah kita perhatikan kalimat pada paragraf penutup surat berikut ini!
(6)          Atas segala bantuan itu, saya ucapan terima kasih.
(7)          Atas kemudahan yang telah saya terima, saya sampaikan terima kasih.
Pada dasarnya, kedua kalimat tersebut cukup takzim sehingga kita tidak perlu menggunakan kata haturkan untuk menggantikan ucapkan dan sampaiakan.
Selain ketiga hal tersebut, keadaan kawan bicara juga perlu perhatikan sehingga pesan yang akaan disampaikan terpahami. Marilah kita perhatikan sebuah contoh pemilihan kata dalam sebuah sambutan pada suatu peresmian.
(8)          Saudara-saudara, aatasa nama pemerintah, saya menyampaikan salut setinggi-tingginya atas partisipasi aktif yang Anda berikan dengan penuh dedikasi dan penuh aantusias dalam menyesaikan proyek irigasi ini sebagaisalaah satu kegiatan dari pilot proyek modernisasi dalam semua aspek kehidupan kita, baik mental maupun spiritual.
Sekalipun pemilihan katanya sudah memenuhi syarat seperti yang diuraikan, jika khalayak pendengarnya bukan golongan terpelajar dan tidak biasa dengan kata-kata yang digunakan itu, ada kemungkinan pesan tidak terpahami dngan baik. Penggunaan kata yang digali dari khazanah bahasa indonesia lebih memungkinkan pemahamannya. Jika hal itu akan dilakukan, berikut ini padanannya dalam bahasa Indonesia.
Salut                            : hormat, penghormatan
Partisipasi                    : peran serta
Dedikasi                      : pengabdian (pengorbanan tenaga dan waktu keberhasilan
suatu usaha atau tujuan muali)
Antusias                       : bersemangat
Iritasi                           : pengairan (cara pengaturan pembagian air untuk sawah)
Pilot proyek                 : pengairan (cara pengaturan pembagian air untuk sawah)
Pada hakikatnya, memilih kata secara baik merupakan upaya agara pesan yang hendak disampaikan dapaat diterima secara tepat
















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Ada dua macam pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan.
Kata dapat digolongkan berdasarkan bentuk dan prilakunya, kata yang memiliki bentuk dan prilaku yang sama dikelompokkan kedalam kategori atau kelas kata tertentu. Menurut pengelompokan tersebut, bahasa Indonesia mengenal lima kata yakni:
1)      Kata kerja atau verba
2)      Kata benda atau nomina
3)      Kata sifat atau ajektiva
4)      Kata keterangan atau adverbial
5)      Kata tugas
Dalam bahasa Indonesia, kata diksi berasal dari kata dictionary (bahasa Inggris yang kata dasarnya diction) berarti perihal pemilihan kata. Dalam Webster (Edisi ketiga, 1996 diction diuraikan sebagai choice of words eps with regard to corretnness, clearness, or efectiveness. Jadi, dikisi membahas penggunaan kata, terutama pada soal kebenaran, kejelajasan, dan keefektifan.


B.     Saran
Adapun saran dari penulisan makalah  ini adalah ketika hendak membuat suatu karya ilmia atau karya tulis yang sifatnya resmi agar menggunakan pilihan kata (diksi) yang tepat dan sesuai dengan daftar kebakuan dalam tata bahasa Indonesia.














DAFTAR PUSTAKA
Yamilah, M. 1994. Bahasa Indonesia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Arifin, Zaenal. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
Bagus, Ida Putrayasa. 2007. Kalimat Efektif. Bandung : Refika Aditama.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar